Sat, 17 Dec 2011 09:32:45 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Icip-icip Burger Koleksi Sang Raja

Bagaimana rasanya burger koleksi sang raja?


Icip-icip Burger Koleksi Sang Raja

BURGER. Sejak kapan kita mengenal makanan ini?

Usut-usut punya usut asal-usulnya mungkin sejak ribuan tahun lalu saat manusia purba menyadari kalau daging yang dimasak, dipanggang di atas api, rasanya lebih enak daripada dimakan mentah.

Dari telusuran ke dunia maya kata burger berasal dari Hamburg, Jerman. Kata hamburger menunjukkan sebutan bagi orang-orang Hamburg (seperti Londoner bagi orang asal London). Dari kota pelabuhan terbesar itu orang-orang Jerman bermigrasi ke Amerika. Orang-orang itu membawa serta makanan favorit mereka. Salah satunya steak ala Hamburg (Hamburg steak). Steak ini dari daging kelas rendah yang dibumbui rempah-rempah dan jadi makanan favorit kalangan imigran Jerman yang miskin.

Di pengujung abad ke-18, para pelaut yang menyinggahi Hamburg atau New York menyebut jenis makanan itu Hamburg Steak. Untuk menarik pelaut Jerman, sebuah tempat makan di pelbuhan New York masa itu menawarkan menu "steak dimasak ala Hamburg."

Burger yang kita kenal sekarang bermula dari kota Athens, Texas, AS. Di kota itu, hamburger pertama diciptakan tahun 1880-an di sebuah kafe kecil di gedung pengadilan Henderson County yang dikelola Paman Fletcher Davis. Paman Fletch kemudian membawa serta makanan kebanggannya ke acara World’s Fair tahun 1904 di St. Louis. Di situ ia menyebut makanannya "hamburger". Sejak itu, hamburger, yang dipendekkan jadi burger, menjadi makanan populer khas Amerika.

Kita tahu, burger kemudian tak hanya populer di Amerika. Abad 20 kemarin yang sering disebut "American Century—Abad Amerika" juga membawa serta burger sebagai cinderamata Amerika untuk dunia. Makan burger tak sekadar bermakna harfiah makan roti isi daging dan sayuran, tapi juga sebuah laku kebudayaan. Ia sebuah reproduksi gaya hidup. Ketika restoran cepat saji mulai banyak terdapat di Indonesia di tahun 1980-an, makan burger sudah trendi sekali. Yang diciptakan adalah pencitraan. Orang terlihat keren kalau sudah makan burger. Anda yang tumbuh di tahun 1990-an pasti pernah merasa keren sekali makan burger atau kentang goreng di restoran cepat saji waralaba Amerika. Lebih keren lagi bisa mengajak teman-teman mentraktir makan di sana merayakan ultah.

Tapi seiring waktu, makan burger kemudian jadi terasa biasa. Burger sudah dijual di mana hingga ke pelosok gang-gang sempit di arak oleh gerobak penjaja atau nongkrong depan sekolah. Harganya juga makin murah.

Burger ala abang penjaja burger keliling yang nongkrong di depan sekolah tak sampai Rp 5000. Di restoran cepat saji juga dijual burger super murah yang harganya Rp 5000 plus sedikit pajak. Makan burger menjadi hal yang biasa, malah lebih murah dari nasi Padang.

***

Namun ada fenomena menarik beberapa tahun terakhir. Jika Anda perhatikan sekaranng makin bertebaran restoran yang menyajikan burger eksklusif alias gourmet burger. Burger ini dibedakan dari burger yang disajikan restoran cepat saji. Gourmet burger biasanya disajikan dengan sentuhan personal. Dagingnya lebih besar dan dipilih yang paling enak, sayurannya pun dipilih yang segar-segar, sausnya pun istimewa.

Pendek kata, bila diibaratkan, gourmet burger adalah karya seni tingkat tinggi sedang burger di restoran cepat saji adalah gambar yang diproduksi massal dengan barang cetakan. Yang satu lukisan karya seniman, sedang satu lagi komik. Yang satu seni avant garde, satu lagi seni kitsch.

Namun, sesuai dengan semangat zaman postmodernis, apa yang avant-garde dan kitsch pun menjadi kabur, begitu juga urusannya dengan burger. Maka, sebuah restoran cepat saji sah-sah saja membuat guormet burger, burger ekslusif atau sebutan lainnya premium burger.

Pada titik inilah saya memaknai kehadiran 3 hidangan terbaru Burger King yang mereka juluki premium burger bernama The King’s Collection—koleksi sang raja.

Dari namanya, citra yang hendak dibangun adalah burger ini hidangan para bangsawan—berseberangan dengan sejarah burger yang saya terangkan di muka sebagai makanan imigran Jerman tak berduit.

Hal itu sah-sah saja. Sebab, mengutip pemikir postmodernis Jean Baudrillard, apa yang nyata dan tidak nyata sebegitu hadir di depan kita. Yang tidak nyata, hiperealitas, bahkan melampaui apa yang nyata. Dikatakan Baudrillard, citra bisa membentuk dirinya sendiri, tanpa perlu terikat asal usulnya.

Yang menjadi pertanyaan kemudian apakah burger premium Burger King ini sekadar laku pencitraan, sebuah trik advertensi, atau memang pada kenyataannya burger ini layak digelari burger premium?

Hal itu yang membuat saya penasaran menghadiri undangan food testing 3 premium burger terbaru Burger King yang mereka namai The King’s Collection di gerai Senayan City, Jakarta, Kamis (15/12) silam.

Saya sudah kenyang dengan kebohongan iklan di berbagai restoran cepat saji yang menyajikan burger tak seindah foto yang terpampang. Saya ingin tahu apa saya dibohongi lagi atau tidak.

Burger pertama yang saya cicip adalah Extra Thick (XT) Swiss Steakhouse. Bagi penyuka burger dengan lembaran salad, ini pilihan yang sulit ditolak. Sayurannya dipilih yang masih segar. Saya bisa lihat warna hijaunya yang mentereng, tidak layu. Yang istimewa juga dagingnya. Selain dimasak dengan cara flame-grilled alias dipanggang (restoran cepat saji lain dagingnya digoreng) khas Burger King, ukurannya pun premium.

Dikatakan, daging burger premium lebih besar 77 persen. Jika daging burger biasa Burger King beratnya 2,2 ons, burger premium beratnya 3,9 ons. Dagingnya juga diimpor dari New Zealand.

Yang paling saya suka dari XT Swiss Steakhouse adalah sausnya. Dikatakan, burger premium ini menggunakan Tomato Relish, saus berbahan dasar tomat dengan potongan tomat asli yang meninggalkan rasa asam manis. Plus saus aioli, sejenis mayonnaise lembut dengan kombinasi rasa garlic dan mustard bijian. Juicy!!

Yang kedua yang saya cicipi adalah XT Beafacon Steakhouse. Ini burger premium idaman bagi penyuka daging. Selain daging lebih tebal terdapat irisan bacon. Sausnya juga sangat lezat, menambah rasa pada setiap gigitan daging. Sausnya adalah onion relish yang juga berasa asam manis dengan potongan bawang bombay dan mustard bijian.

Yang ketiga adalah burger premium bagi pecinta daging ayam, TenderCrisp Deluxe. Daging ayam yang dipilih hanya bagian dari daging paha atas. Hasilnya adalah chicken fillet yang crispy dan spicy. Saat menggigit potongan ayamnya, ada sedikit rasa pedas mengejutkan lidah. Setelah sedikit tercekat saya kemudian menikmati setiap gigitannya.

***

Keunggulan burger ini juga terletak pada bahan-bahannya. Setiap restoran boleh mengklaim burger miliknya sebagai gourmet burger alias burger premium, tapi jika bahannya tak istimewa burgernya jadi burger biasa. Komitmen Burger King menyuguhkan burger istimewa yang dagingnya di masak flame-grilled, sayuran segar Iceberg lettuce, Rocket leaves, dan Spanish Red Onion, saus spesial, plus keju Swiss. Semuanya di dalam roti tebal Corn-dusted Water-split bun.

Saya menikmati setiap gigitan saat food testing kemarin.

Jika Anda ingin mencicipi hidangan burger koleksi sang raja, Anda harus segera meluncur ke gerai Burger King. Sebab, menu 3 burger premium The King’s collection ini hanya disajikan hingga akhir Januari tahun depan. Merogoh kocek Rp 50.000, Anda bisa menikmati salah satu koleksi sang raja berikut minuman ringan, kentang goreng, dan ice cream cone sebagai dessert. Hm, harga yang terbilang terjangkau untuk sebuah burger premium.

Pada akhirnya, burger ini bukan sekadar dicitrakan burger ala raja, tapi rasanya memang layak disebut hidangan sang raja. Bukankah hanya raja yang boleh icip-icip hidangan istimewa? Anda bisa seolah-olah jadi raja, yang diistimewakan, saat mencicipi 3 burger premium ini.***

(ade/ade)

0Komentar

video gaya hidup

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft