Tue, 01 Nov 2011 14:22:48 GMT | By Editor Endang Jamhari, tabloidbintang.com

Chocodot, Perkawinan Cokelat dengan Dodol Garut

SAAT peluncuran Chocodot (cokelat dengan isi dodol Garut) banyak yang mencibiri Kiki Gumelar (30). Komentar miring yang bertujuan menjatuhkan produknya juga datang.


Chocodot, Perkawinan Cokelat dengan Dodol Garut

SAAT peluncuran Chocodot (cokelat dengan isi dodol Garut) banyak yang mencibir Kiki Gumelar (30). Komentar miring yang bertujuan menjatuhkan produknya juga datang.

Namun dia pantang menyerah dan membuktikan inovasinya, memadukan cokelat dengan dodol. Kini tidak hanya keuntungan ratusan juta yang dia dapatkan dalam sebulan, tapi juga berbagai penghargaan. Bahkan sering diundang ke seminar entrepreneurship.

Dalam waktu 5 tahun bekangan ini kuliner Garut, Jawa Barat, berkembang pesat. Banyak waralaba rumah makan Sunda lahir dari kota ini. Sebut saja Bumbu Desa dan Cibiuk. Pun begitu dengan dodol yang menjadi salah satu ikon kota Garut.

Dodol Garut melahirkan jajanan baru yang naik daun, Chocodot (baca: cocodot), dan menjadi oleh-oleh wajib dari Garut. Chocodot adalah cokelat isi dodol Garut, yang lahir dari kreativitas Kiki Gumelar. Produk yang inovatif dan didukung pemasaran dan promosi yang kreatif membuat produk ini laris manis di pasaran. Bahkan dalam hitungan bulan, sudah break-event point (BEP).

Belum genap 1 tahun, Kiki sudah memiliki beberapa cabang Chocodot di Garut. “Sekarang di Garut ada 6 outlet, di Bandung ada 2 outlet. Kami juga mengembangkan bisnis ke Semarang, Jakarta, Bali, Makassar, dan Banjarmasin,” ucap Kiki Gumelar, yang akrab disapa Aa Gumelar ini.

LAYAKNYA COKELAT IMPOR

Bahan dasar Chocodot terbuat dari dark chocolate dan white chocolate yang dipadukan dengan dodol Garut. Kombinasi dua bahan itu melahirkan cita rasa baru yang unik dan lezat.

Chocodot menjadi magnet karena dikemas layaknya cokelat keluaran luar negeri. Bedanya, di kemasan Chocodot ada informasi seputar pariwisata Garut. Bahkan Chocodot mengeluarkan edisi spesial yang namanya diambil dari tempat wisata dan beberapa gunung di Garut, seperti Gunung Papandayan (perpaduan milk chocolate dengan dodol), Cikuray (milk chocolate dengan dodol keju), Gunung Guntur (milk chocolate dengan dodol susu), Gunung Haruman (dark chocolate dengan dodol), Gunung Talaga Bodas (white chocolate dengan dodol).

“Saya sengaja mengeluarkan 5 edisi khusus cokelat sesuai dengan gunung yang ada di Garut. Saya juga mengeluarkan edisi cokelat Cipanas, karena itu salah satu tempat wisata favorit di Garut. Untuk edisi Candi Cangkuang berdiri sendiri, karena hanya ada Candi Cangkuang di Garut,” urai Aa Gumelar ini.

Harga Chocodot relatif murah, mulai dari Rp 5.000 sampai dengan Rp 10.000. Dari tangan Aa Gumelar ini juga lahir Brodol (brownies dodol) yang menjadi salah satu oleh-oleh favori wargaJakarta dan Bandung ini. Aa Gumelar juga memadukan cokelat dengan berbagai bahan, seperti kopi, rengginang, roti, jamu, dan rempahrempah. Bahkan ada cokelat rasa cabai. Rasanya tetap lezat.

“Rasa yang unik itu yang membedakan Chocodot dengan cokelat merek lain,” ujar pria yang merayakan ulang tahun setiap 17 November ini.

Lewat Chocodot dia mengajak masyarakat menikmati dodol dengan cara berbeda. Melebarkan sayap bisnisnya ke beberapa kota besar, Aa Gumelar membuat aneka cokelat dengan cita rasa setempat. Misalnya di Semarang, ia membuat Jengcoko alias cokelat isi jenang. Di Yogyakarta, ia melahirkan produk Roso, cokelat jamu. Di Jakarta, ia membuat None Cokelat.

Pendekatannya budaya asli daerah itu, yang dipadukan dengan bahan utama cokelat. Saya juga membuat Celebes Cokelat di Makassar, Borneo Cokelat di Banjarmasin, dan rencananya saya juga akan membuat cokelat spesial di Bali,” urai ayah 1 anak ini.

MEMPERKENALKAN INDONESIA LEWAT COKELAT

Produk inovatif tanpa dibarengi dengan pemasaran dan promosi yang inovatif, akan sia-sia. Putra asli Garut ini mencuri perhatian konsumen dengan kemasan Chocodot yang sarat unsur budaya lokal Garut dan informasi pariwisata Garut. Ia juga menitipkan Chocodot pada titik-titik keramaian yang dikunjungi wisatawan. Cara ini berhasil mencuri perhatian wisatawan asal Jakarta dan Bandung. Kini dalam sehari, produksi Chocodot yang berdiri di bawah bendera UD Tama ini bisa menghabiskan 12 ton cokelat dan 5 ton dodol Garut. Jumlah karyawannya sudah 75 orang.

“Alhamdulillah, Chocodot sudah bisa diterima masyarakat,” ucap Aa Gumelar. Yang membuat Aa Gumelar sangat bahagia, ia berhasil menciptakan oleh-oleh baru khas Garut.

“Visi dan misi usaha saya, menjadikan Garut sebagai kota kreasi cokelat. Garut memang bukan penghasil cokelat layaknya Swiss namun bisa menghasilkan cokelat yang akan mendunia. Mudahmudahan Garut bisa menjadi Swiss van Java,” ujar Aa Gumelar.

Ucapan Aa Gumelar itu dibuktikan dengan membawa Chocodot ke berbagai festival cokelat di beberapa negara. Bahkan Chocodot menjadi juara di ajang kontes cokelat di Milan, Italia.

“Juri-jurinya banyak yang suka dengan rasa cokelat Chocodot. Mereka bilang unik dan lezat,” ucap Aa Gumelar. Bahkan ia sudah bekerja sama dengan Arab Saudi untuk memasok Chocodot sebagai oleh-oleh jemaah haji.

“Makanya saya membuat varian baru, Chokor (cokelat kurma),” tegasnya. Untuk menjaga kualitas Chocodot, Aa Gumelar membeli mesin cokelat berstandar internasional dan hanya membeli biji cokelat yang berkualitas bagus. Cokelat yang dibuat Chocodot berasal dari Sulawesi dan Kalimantan.

“Kedua daerah itu terkenal dengan cokelat yang kualitasnya bagus. Bahkan, cokelat Swiss, biji cokelatnya dari Sulawesi dan Kalimantan,” tandas Aa Gumelar yang menyelesaikan kuliah di Yogyakarta ini. Selain itu, untuk urusan produksi, pemasaran, dan promosi, Aa Gumelar memercayainya kepada pihak profesional.

“Kualitas itu tetap yangutama. Karena tujuan utama saya adalah mengenalkan budaya Indonesia ke ajang internasional lewat cokelat,” ucap pria yang kini membina 27 UKM di Garut ini.

Pria ramah ini pun mencantumkan tempat-tempat pariwisata dan budaya Indonesia di beberapa produk cokelatnya yang diekspor ke beberapa negara. Ia juga mengajak muda-mudi Tanah Air untuk jadi entrepreneur. “Jangan terlalu banyak berpikir untuk memulai usaha, lakukan saja. Jangan pernah takut rugi,” pesan Aa Gumelar.

(ej/gur)

0Komentar

video gaya hidup

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft