BeritaSatu Logo
Updated: Tue, 02 Oct 2012 19:10:00 GMT | By BeritaSatu.com Feed kanal news

Sinar Matahari Hambat Penyakit Kulit Kronis



Berita Satu

BERITASATU.COM - Di Eropa, prevalensi psoriasis lebih tinggi dibanding di Asia Timur dan Afrika Barat.

Serapan ultraviolet dari sinar matahari mampu menghambat penyakit kulit inflamasi kronis yang bersifat menahun dan kambuhan, psoriasis.

Hal tersebut diungkapkan pakar kesehatan kulit dan kelamin Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sunardi Radiyono, kemarin, di Yogyakarta. "Gejala klinis dari penyakit psoriasis antara lain kulit merah bersisik, menebal, gatal hingga mengelupas. Sebagai penyakit autoimun, kemunculannya disebabkan interaksi faktor genetik dan lingkungan," katanya.

Menurut dia, di Indonesia penyakit itu bisa muncul bagi mereka yang sebelumnya menderita penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis dan lepra. Namun, kejadian psoriasis di Indonesia terbilang cukup rendah dibandingkan negara-negara di belahan Eropa, karena adanya panas sinar matahari sepanjang tahun.

"Di negara Eropa yang mayoritas berasal dari Bangsa Kaukasoid, prevalensi kejadian psoriasis lebih tinggi dibandingkan Bangsa Mongoloid, seperti Asia Timur dan Afrika Barat Daya. Fenomena itu memberi kesan orang Kaukasoid lebih rentan terkena psoariasis," katanya.

Namun demikian, kata dia, faktor genetik, ras, imunologik, geografik, musim, antigen, eksternal, stres emosional, dan hormonal ikut berperan pada aktivasi penyakit itu.

"Kejadian prevalensi di Indonesia belum diketahui secara jelas, tetapi berdasarkan frekuensi kunjungan pasien baru psoriasis di berbagai rumah sakit hasilnya bervariasi antara 0,2-2,2 persen dari jumlah seluruh pasien," katanya.

Ia mengatakan penyakit kulit itu umumnya timbul lewat perantara penyakit infeksi menular tropis. Tuberkuosis, human papilloma virus (HPV) dan berbagai penyakit menular seperti lepra dan malaria menjadi faktor pencetus psoriasis.

"Penyakit itu cenderung dijumpai pada daerah perkotaan dibandingkan dengan daerah perdesaan karena pola hidup yang tidak sehat, tingkat stres emosional, pengaruh alkohol dan rokok. Semua itu bisa mempengaruhi faktor genetik DNA dalam tubuh," katanya.

Menurut dia penyakit itu umumnya mempengaruhi dan menekan kualitas hidup penderitanya karena rasa percaya diri yang berkurang dan merasa penyakit itu sulit disembuhkan.

"Penyakit itu bisa disembuhkan jika dikontrol dengan baik, meskipun tidak bisa sepenuhnya dihilangkan," kata Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran UGM itu.

video gaya hidup

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft