Sat, 17 Nov 2012 20:27:50 GMT | By Editor Wayan Diananto, tabloidbintang.com

Salah Kaprah Mengopres Anak yang Tengah Demam

KOMPRES dengan air dingin tidak digunakan lagi karena hanya menurunkan demam sesaat dan justru akan menimbulkan demam lebih tinggi setelahnya.


Salah Kaprah Mengopres Anak yang Tengah Demam

KOMPRES dengan air dingin tidak digunakan lagi karena hanya menurunkan demam sesaat dan justru akan menimbulkan demam lebih tinggi setelahnya.

Bu, si kecil demam? Pertolongan apa yang biasanya dilakukan? Kompres. Metode ini diyakini efektif usir demam. Selain minum dalam jumlah banyak, kompres adalah pertolongan pertama yang paling mudah dilakukan dalam melawan demam. Demam bukan penyakit. Demam bagian dari respons tubuh dalam mengatasi penyakit.

Dengan adanya demam, berarti badan menunjukkan usaha mengatasi penyakit. Beberapa penyakit yang diawali dengan gejala demam seperti demam berdarah, campak, rubela, batuk pilek dalam berbagai tingkat keganasan. Pertanyaan yang muncul kemudian, seberapa besar kompres mampu melawan penyakit-penyakit itu?

Pakai Air Hangat, Air Dingin, atau Alkohol?

Dr. Herbowo Soetomenggolo Sp.A (37) menyebut, turun atau tidaknya demam dipengaruhi banyak hal terutama penyebab demam itu sendiri. “Tetapi kompres hangat dapat minimal membuat anak lebih nyaman dan hampir 90 persen berhasil menurunkan demam,” Herbowo menerangkan. Begitu mujarabnya kompres, sehingga mayoritas ibu memilih teknik ini saat buah hati demam.

Akan tetapi sebagian besar ibu salah kaprah dalam mengompres. Mengompres pakai air dingin atau air panas, ya? Kompres yang benar, yang digunakan saat ini, adalah kompres hangat atau air suam kuku. “Kompres dengan air dingin tidak digunakan lagi karena hanya menurunkan demam sesaat dan justru akan menimbulkan demam lebih tinggi setelahnya,” Herbowo mengingatkan.

Salah kaprah berikutnya yang sering ibu lakukan, mengompres di jidat. Ini salah. Herbowo mengingatkan prinsip kompres hangat, membuat seluruh reseptor demam di tubuh menyadari anak sedang mengalami lonjakan suhu. Tubuh merespons demam dengan mengeluarkan zat-zat yang bisa menurunkan demam. Reseptor demam kita ada di seluruh permukaan kulit.

“Jadi bukan di kening saja. Dengan menghangatkan seluruh permukaan kulit, terjadi pelebaran pembuluh darah di seluruh kulit sehingga aliran darah bertambah dan panas tubuh makin cepat dibuang ke udara,” urainya. Kompres mujarab jika tekniknya benar. Caranya?

Dengan menyeka seluruh tubuh anak atau dengan cara berendam di air hangat atau air suam kuku. Mungkin Anda pernah mendengar pertolongan pertama dengan kompres alkohol. Sebaiknya metode ini Anda abaikan. Kompres alkohol sudah tidak digunakan lagi karena dapat menimbulkan efek toksik (keracunan-red) pada anak. Demam bukan sesuatu yang berbahaya.

Yang datang sesudah demam itu yang patut diantisipasi. Segala tindakan dalam menangani demam berpusat bukan pada seberapa banyak demam dapat ditekan, tetapi bagaimana agar pasien nyaman meskipun sempat kejang pada 24 jam pertama. Kuncinya kenyamanan.

“Penelitian menunjukkan, kejang demam tetap ada meski demam diturunkan. Kejang demam terjadi pada awal perubahan suhu yang mendadak. Hanya terjadi pada 2 sampai 4 persen populasi anak demam alias kasus langka. Kejang tidak menimbulkan kematian, cacat, serta tidak menurunkan tingkat inteligensi,” paparnya panjang.

Menanti Suhu “Ambang Batas”

Mengompres memang sederhana dan sepele. Hanya berbekal air, wadah, dan sehelai kain. Lalu, dipadukan dengan banyak minum air putih. Sesederhana itu. Tapi manfaatnya tak main-main. Jurnal dari Sullivan JE dan Farrar HC bertajuk Fever and Antipyretic Use in Children menyebut, pada saat demam kebutuhan cairan meningkat sampai 1,5 kali dari kebutuhan normal.

Jika kekurangan cairan, demam akan meninggi. Setelah dikompres, perbanyak minum. Fungsinya, menjaga kecukupan cairan dan mencegah timbulnya panas lebih tinggi. Jangan minum minuman yang mengandung kafein (teh, kopi-red) karena akan menyebabkan cairan tertarik keluar melalui kencing sehingga makin kekurangan cairan.

Peranti lain yang wajib ada ketika anggota keluarga demam, termometer. Ujung-ujungnya, muncul pertanyaan begini: jika suhu tubuh terus menanjak padahal sudah dikompres, berapa suhu ambang batas maksimal yang mengharuskan kita membawa si kecil ke rumah sakit? Inilah salah kaprah berikutnya. Menanti suhu “ambang batas” alias suhu kritis.

“Bu, enggak ada suhu maksimal yang ditentukan. Jika anak Anda tidak mau minum banyak sehingga terlihat lemah atau terdapat tanda-tanda dehidrasi, segeralah bawa ke rumah sakit. Selain itu, jika terdapat tanda gawat lainnya seperti sesak, kejang yang tidak berhubungan langsung dengan demam, jangan ditunda-tunda,” Herbowo mengimbau.

Masih dari jurnal Fever and Antipyretic Use in Children yang dirilis tahun lalu, jika sudah dikompres, biarkan ia beristirahat. Jangan bangunkan anak hanya untuk memandikan atau memberi obat penurun panas. Makin banyak beristirahat, makin cepat sembuh. Hal lain yang patut dicamkan, tidak ada korelasi antara demam dan makanan pantangan.

“Selama demam dan sakit, metabolisme akan terganggu. Sebaiknya mengonsumsi makanan yang lunak sehingga mudah dicerna. Satu lagi, hindari memakaikan pakaian berlapis dan selimut tebal karena itu malah menyulitkan kulit anggota keluarga yang sakit untuk melakukan pertukaran panas dengan udara,” pungkas Herbowo.

(wyn/adm)

0Komentar

video gaya hidup

lainnya...

berita hang out